Belajar Restorasi Ekonomi dan Pangan dari Sekolah Seniman Pangan

 



Sabtu, 8 Agustus 2026, saya bersama teman-teman Eco Blogger Squad (EBS) mendapatkan kesempatan untuk mengikuti offline kick-off di Sekolah Seniman Pangan. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian awareness menjelang Hari Masyarakat Adat Sedunia yang diperingati setiap tanggal 9 Agustus.

Buat saya, kegiatan kali ini terasa cukup berbeda. Biasanya ketika mendengar kata pangan, yang terlintas di pikiran saya mungkin hanya makanan yang ada di meja makan. Padahal, setelah mengikuti kegiatan di Seniman Pangan, saya jadi sadar bahwa di balik sepiring makanan ternyata ada cerita panjang tentang alam, tanaman, benih, petani, budaya, bahkan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Acara dimulai sekitar pukul 09.30 WIB dan diikuti oleh 26 member EBS yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Sebelum mulai berkeliling, kami terlebih dahulu disambut dengan berbagai camilan sederhana seperti jagung rebus, kacang rebus, es bunga telang, dan beberapa sajian lainnya.

Sederhana, tetapi justru terasa menyenangkan. Apalagi menikmatinya sambil duduk santai dan ngobrol dengan teman-teman EBS. Dari sini saja saya sudah merasa bahwa makanan yang kami nikmati hari itu memang punya cerita tersendiri.
Mengenal Seniman Pangan

Sebelum berkeliling kebun, kami mendapatkan penjelasan mengenai Sekolah Seniman Pangan. Tempat ini bukan sekadar kebun atau tempat belajar bercocok tanam. Seniman Pangan menjadi sebuah ruang untuk mengenal kembali hubungan antara manusia, alam, pangan, budaya, dan pengetahuan lokal.

Saya jadi melihat bahwa pangan bukan hanya sesuatu yang kita beli di pasar, masak, lalu makan. Ada pengetahuan mengenai bagaimana tanaman tumbuh, dari mana benih berasal, bagaimana masyarakat memanfaatkannya, hingga bagaimana pengetahuan tersebut dijaga dan diwariskan.

Hal ini juga berkaitan dengan semangat restorasi pangan, yaitu bagaimana kita bisa kembali mengenal, menjaga, dan memanfaatkan keberagaman pangan yang ada di sekitar kita. Kegiatan ini juga mengajak kami memahami bahwa kontribusi untuk menjaga keberagaman pangan sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana, bahkan dari rumah sendiri. Salah satunya dengan memanfaatkan pangan yang berasal dari daerah setempat.

Mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika kita memilih untuk mengenal dan menggunakan pangan lokal, secara tidak langsung kita ikut menjaga keberadaan bahan pangan tersebut. Lebih dari itu, kita juga turut membantu mempertahankan pengetahuan tradisional yang berkaitan dengan cara menanam, mengolah, dan memanfaatkan pangan.

Hal ini menjadi semakin penting karena pengetahuan tersebut merupakan bagian dari warisan budaya IPLC (Indigenous Peoples and Local Communities) atau Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal. Bagi saya, ini menjadi pengingat bahwa melestarikan pangan bukan hanya soal menjaga tanaman atau bahan makanan. Ada cerita, pengetahuan, tradisi, dan kehidupan masyarakat yang ikut melekat di dalamnya.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana Seniman Pangan memperkenalkan bahan pangan dan benih yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Aceh sampai Papua. Indonesia memang kaya sekali dengan keberagaman pangan. Namun, terkadang kita justru lebih familiar dengan makanan yang sedang populer dibandingkan dengan pangan lokal yang sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Dari sini saya belajar bahwa mengenal pangan lokal juga berarti mengenal cerita di baliknya.

Jalan-Jalan di Kebun Seluas 3 Hektar

Setelah sesi pengenalan, kami diajak berkeliling kebun Seniman Pangan yang luasnya sekitar 3 hektar. Namun hanya  1,5 hektar yang sudah ditanami tanaman dan dirawat. kenapa baru setengahnya karena keterbatasan petani yang merawatnya. .

Kami berjalan menyusuri area kebun sambil mendapatkan edukasi mengenai berbagai tanaman, manfaatnya, hingga asal-usul bibit yang digunakan. Saya cukup menikmati bagian ini karena rasanya seperti kembali belajar mengenal tanaman yang selama ini mungkin hanya saya lihat sekilas.

Mama Etih Suryatin, Partnership Director Seniman Pangan


Sesi ini dipandu oleh Mama Etih Suryatin, Partnership Director Seniman Pangan, yang menjelaskan berbagai tanaman, manfaatnya, serta pentingnya menjaga pengetahuan mengenai tanaman dan benih sebagai bagian dari keberlanjutan pangan.

Yang menarik, beberapa benih yang diperkenalkan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Jadi, perjalanan tanaman tersebut seperti membawa cerita dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Ada satu aktivitas yang menurut saya cukup seru, yaitu menebak aroma tanaman. Beberapa tanaman sudah dibungkus menggunakan kain kacu, sehingga kami tidak bisa melihat bentuknya. Kami hanya bisa mengandalkan penciuman untuk menebak tanaman apa yang ada di dalamnya. Ternyata tidak semudah yang saya bayangkan!

Kadang aromanya terasa familiar, tetapi ketika harus menyebutkan nama tanamannya, malah jadi bingung sendiri. Aktivitas sederhana ini justru membuat saya semakin sadar bahwa ternyata kita perlu kembali mengenal tanaman yang ada di sekitar kita.

Dari Kebun Langsung Panen

Bagian yang paling seru tentu saja ketika kami mendapatkan kesempatan untuk panen langsung. Kami mencoba memanen singkong dan tebu yang berasal dari Papua dengan dibantu oleh petani sekaligus pengurus lahan di Sekolah Seniman Pangan. 

Selama ini saya mungkin lebih sering melihat singkong dan tebu dalam bentuk makanan atau minuman yang sudah jadi. Kali ini saya bisa melihat dan merasakan sendiri proses mengambilnya langsung dari tanah. Rasanya berbeda ketika kita tahu dari mana makanan tersebut berasal. Ada proses panjang sebelum bahan pangan sampai ke dapur dan akhirnya menjadi makanan yang kita konsumsi sehari-hari.

Aktivitas seperti ini juga membuat saya berpikir bahwa hubungan kita dengan pangan seharusnya tidak berhenti ketika makanan sudah tersaji di meja. Kita juga perlu mengenal alam, petani, tanaman, dan pengetahuan yang membuat pangan tersebut bisa terus tersedia.

Belajar Bahwa Pangan Punya Cerita

Selain berkeliling kebun, kami juga mendapatkan penjelasan dari Ibu Johanna Hehakaja, Business Director Sekolah Seniman Pangan, mengenai peran Seniman Pangan sebagai ruang untuk mengenal dan mengapresiasi kekayaan pangan Indonesia.

Ada banyak makanan dan produk pangan dari berbagai daerah yang diperkenalkan kepada kami. Masing-masing membawa identitas dan cerita dari daerah asalnya. Di titik ini saya semakin memahami bahwa pangan sangat dekat dengan budaya. Sebuah makanan tidak hanya berbicara tentang rasa. Di dalamnya bisa ada tradisi, kebiasaan masyarakat, kondisi alam, cara bercocok tanam, sampai pengetahuan yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu.

Itulah kenapa menjaga keberagaman pangan juga berarti menjaga sebagian dari identitas dan warisan budaya kita.

Praktik Membuat Selai Rosella dan Sirup Kemangi


Corazon Nikijuluw, Food Technology & Education Manager Seniman Pangan


Setelah eksplorasi kebun dan mengenal berbagai pangan lokal, kegiatan kami berlanjut ke sesi pengolahan pangan bersama Corazon Nikijuluw, Food Technology & Education Manager Seniman Pangan. Kami diperkenalkan dengan berbagai produk olahan Seniman Pangan dari berbagai daerah sekaligus mendapatkan gambaran mengenai bagaimana bahan pangan lokal dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Nah, bagian yang paling seru adalah ketika kami semua diajak untuk praktik langsung membuat selai rosella dan sirup kemangi bersama crew Sekolah Seniman Pangan. Jadi bukan hanya melihat proses pembuatannya, tetapi kami benar-benar ikut terlibat. Mulai dari mengenal bahan yang digunakan, mengikuti tahapan pengolahan, hingga mencoba membuatnya sendiri.

Saya cukup menikmati bagian ini karena ternyata bahan-bahan yang terlihat sederhana bisa diolah menjadi produk pangan yang menarik. Rosella yang mungkin selama ini hanya saya kenal sebagai tanaman dengan bunga cantik ternyata bisa diolah menjadi selai. Begitu juga dengan kemangi. Tanaman yang lebih sering saya kenal sebagai lalapan ternyata dapat diolah menjadi sirup.

Dari pengalaman ini saya semakin memahami bahwa pangan lokal punya potensi yang besar. Dengan pengetahuan dan kreativitas, bahan yang berasal dari alam bisa memiliki nilai tambah sekaligus tetap membawa cerita dari daerah asalnya.
Restorasi Pangan Bisa Dimulai dari Rumah

Kegiatan offline kick-off EBS di Sekolah Seniman Pangan ini membuat saya pulang dengan banyak hal baru untuk dipikirkan. Saya belajar bahwa restorasi pangan tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Kita bisa memulainya dari rumah.

Memilih bahan pangan yang berasal dari daerah sekitar, mencoba memasak makanan tradisional, mengenal tanaman lokal, atau sekadar mencari tahu dari mana bahan makanan yang kita konsumsi berasal bisa menjadi langkah kecil yang berarti.

Ketika kita mulai memanfaatkan pangan lokal, kita bukan hanya membantu menjaga keberagaman pangan. Kita juga ikut menjaga pengetahuan tradisional dan warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi oleh masyarakat adat dan komunitas lokal.

Apalagi momentum ini berdekatan dengan Hari Masyarakat Adat Sedunia pada 9 Agustus. Kegiatan di Seniman Pangan menjadi pengingat bahwa masyarakat adat dan komunitas lokal memiliki peran penting dalam menjaga pengetahuan tentang alam, tanaman, pangan, dan budaya.

Buat saya, kunjungan ke Seniman Pangan bukan hanya jalan-jalan ke kebun. Ada education, exploration, cultural appreciation, dan hands-on experience yang membuat kami melihat pangan dari sudut pandang yang berbeda. Hari itu saya datang sebagai orang yang ingin belajar, tetapi pulang dengan satu kesadaran sederhana: ternyata makanan di meja kita punya perjalanan yang panjang dan cerita yang layak untuk dihargai. Dan mungkin, menjaga pangan Indonesia memang bisa dimulai dari hal sesederhana mengenal kembali apa yang tumbuh di sekitar kita.

Tidak ada komentar

Hallo, mohon tidak komentar dengan link hidup ya 😉