Dari Gambut ke Meja Makan: Yuk, Mulai Kenali Umbi-umbian sebagai Alternatif Nasi di Rumah






Buat sebagian besar orang Indonesia, rasanya belum lengkap kalau makan tanpa nasi. Mau lauknya ayam goreng, sayur asem, ikan bakar, atau sambal favorit, ujung-ujungnya tetap mencari nasi putih. Aku pun merasa nasi sudah menjadi bagian dari kebiasaan makan sehari-hari yang sulit dipisahkan.

Tapi, pernah nggak sih kita berpikir kalau Indonesia sebenarnya punya banyak sumber pangan lain yang bisa dijadikan pengganti nasi? Ada singkong, ubi jalar, talas, jagung, hingga sagu yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai daerah.

Hal ini menjadi salah satu hal menarik yang aku pelajari saat mengikuti Online Gathering Eco Blogger Squad (EBS) pada 16 Oktober 2026. Mengangkat tema “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan”, kegiatan ini mengajak kami melihat bahwa urusan lingkungan ternyata punya hubungan erat dengan makanan yang tersaji di meja makan.
Belajar dari Gambut, Belajar Menjaga Pangan

Online Gathering kali ini merupakan kolaborasi Eco Blogger Squad bersama Pantau Gambut dan Nusantara Food Biodiversity. Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB ini diikuti oleh 70 member EBS, sementara tujuh member lainnya berhalangan hadir karena pekerjaan.




Sesi pertama menghadirkan Mas Yoga Aprillianno, Communications Lead dari Pantau Gambut, yang membawakan materi “Peatland Is Not Wasteland.”

Dari pemaparan tersebut, aku jadi semakin memahami bahwa lahan gambut bukanlah lahan kosong yang bisa dimanfaatkan begitu saja. Ekosistem ini memiliki peran penting dalam menyimpan karbon dan mengatur tata air. Sayangnya, gambut yang mengalami pengeringan dan degradasi menjadi lebih rentan terhadap kebakaran.

Fenomena El Niño dan musim kering memang bisa meningkatkan risiko karhutla, tetapi bukan menjadi penyebab utamanya. Kondisi gambut yang sudah kering membuat api lebih mudah muncul dan bertahan, bahkan di lapisan bawah tanah.

Lalu, apa hubungannya dengan makanan?

Ternyata, kerusakan lingkungan bukan hanya soal hutan terbakar, asap, atau lahan yang rusak. Dampaknya juga bisa merambat ke kehidupan masyarakat, termasuk ketersediaan sumber pangan. Ketika ekosistem rusak dan masyarakat kehilangan akses terhadap sumber pangan lokal, ketergantungan pada bahan pangan dari luar daerah pun bisa meningkat.

Di sinilah aku mulai melihat bahwa menjaga lingkungan sebenarnya juga berkaitan dengan menjaga apa yang kita makan setiap hari.

Indonesia Kaya Pangan, Kenapa Harus Selalu Nasi?






Sesi berikutnya menghadirkan Mas Ahmad Arif, jurnalis Kompas, yang membahas keragaman biokultural sebagai kunci kedaulatan pangan dan iklim.

Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana pola konsumsi masyarakat Indonesia semakin bergantung pada beras dan gandum. Padahal, setiap daerah memiliki potensi sumber pangan yang berbeda-beda, menyesuaikan kondisi alam, tradisi, dan pengetahuan masyarakat setempat.

Di Papua dan Maluku, misalnya, sagu menjadi salah satu sumber pangan penting. Masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan juga memiliki sejarah panjang dalam memanfaatkan umbi-umbian, sagu, serta berbagai sumber pangan dari hutan.

Sementara itu, singkong, ubi jalar, talas, dan jagung juga mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai daerah Indonesia.

Aku jadi berpikir, jangan-jangan selama ini kita terlalu terbiasa menganggap nasi sebagai satu-satunya pilihan karbohidrat, sampai lupa bahwa ada banyak alternatif yang sebenarnya bisa diolah menjadi makanan rumahan.

Padahal, mengenal pangan lokal tidak harus dimulai dengan sesuatu yang rumit. Kita bisa mulai dari bahan yang tersedia di pasar tradisional, warung sayur, atau bahkan hasil kebun sendiri jika ada.
Eksplorasi Umbi-umbian yang Bisa Dicoba di Rumah

Kalau ingin mulai mengurangi ketergantungan pada nasi, menurutku langkah paling sederhana adalah mengenali bahan pangan yang mudah ditemukan di sekitar kita.

Misalnya, singkong. Bahan pangan ini cukup mudah dijumpai di pasar dan bisa diolah menjadi singkong kukus atau rebus. Supaya lebih mengenyangkan dan tetap menarik sebagai menu utama, singkong bisa disajikan bersama pepes ikan, tumis tempe, sayur bening, atau sambal favorit keluarga.

Pilihan lainnya adalah ubi jalar. Selain direbus atau dikukus, ubi juga bisa dipanggang hingga teksturnya lembut dan rasanya manis alami. Untuk menu makan siang atau malam, ubi bisa dipadukan dengan telur dadar, tumis sayuran, dan lauk berprotein lainnya.

Ada juga talas yang bisa diolah menjadi talas kukus sebagai alternatif sumber karbohidrat. Tinggal dipadukan dengan lauk rumahan sesuai selera. Namun, pastikan talas diolah dengan benar agar aman dikonsumsi.


Bagaimana dengan sagu? Buat masyarakat yang tinggal di wilayah penghasil sagu, bahan pangan ini bisa diolah menjadi papeda dan dinikmati bersama ikan kuah kuning atau sayur. Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa makanan pokok tidak harus selalu berbentuk nasi untuk bisa dinikmati bersama lauk yang lezat.

Dari berbagai pilihan ini, aku belajar bahwa mengganti nasi bukan berarti harus mengubah seluruh kebiasaan makan dalam satu hari. Kita bisa mulai mencoba satu menu alternatif dalam seminggu, kemudian mengenali bahan pangan lain secara bertahap.

Yang tidak kalah penting, menu pengganti nasi tetap perlu dilengkapi lauk berprotein, sayuran, dan sumber gizi lainnya agar kebutuhan nutrisi keluarga terpenuhi.
Ada Tradisi dan Pengetahuan Lokal di Balik Sepiring Makanan

Hal yang membuat pangan lokal semakin menarik adalah hubungannya dengan tradisi dan budaya masyarakat.

Dalam materi Mas Ahmad Arif, aku belajar bahwa pangan bukan sekadar komoditas atau hasil produksi pertanian. Pangan juga berkaitan dengan identitas, pengetahuan, dan cara masyarakat beradaptasi dengan lingkungannya.

Contohnya bisa dilihat dari masyarakat adat Dayak Ngaju yang memiliki tradisi berladang dan menjaga keberagaman benih. Sistem pertanian mereka bukan hanya menghasilkan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan hubungan dengan alam.

Ada pula masyarakat Boti di Pulau Timor yang mempertahankan keberagaman tanaman pangan melalui praktik menanam beragam jenis tanaman dan mengonsumsi hasil yang ditanam. Pengetahuan lokal, peran perempuan dalam menjaga benih, serta tradisi yang diwariskan antargenerasi ikut mendukung ketersediaan pangan mereka.




Dari sini, aku menyadari bahwa menjaga pangan lokal bukan cuma soal membeli singkong dari pasar atau memasak ubi di rumah. Ada petani, masyarakat adat, dan komunitas lokal yang berperan dalam mempertahankan benih, pengetahuan budidaya, serta tradisi pangan agar tidak hilang begitu saja.

Kita pun bisa ikut mengambil bagian dengan mengenali bahan pangan khas daerah masing-masing, membeli hasil panen petani lokal, dan memperkenalkan makanan tradisional kepada anak-anak di rumah.
Menjaga Lingkungan Bisa Dimulai dari Meja Makan

Mengikuti Online Gathering EBS kali ini membuatku melihat isu lingkungan dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Selama ini, ketika membahas karhutla dan kerusakan gambut, mungkin yang langsung terlintas adalah hutan terbakar, kabut asap, atau dampaknya terhadap kesehatan. Padahal, ada hal lain yang juga perlu diperhatikan, yaitu keberagaman sumber pangan yang menopang kehidupan masyarakat.

Kalau sumber pangan lokal semakin ditinggalkan dan ekosistem tempat pangan itu tumbuh mengalami kerusakan, kita berisiko kehilangan lebih dari sekadar bahan makanan. Kita juga bisa kehilangan pengetahuan, tradisi, dan kemandirian pangan yang telah diwariskan selama bertahun-tahun.

Karena itu, menurutku, langkah sederhana seperti mencoba singkong sebagai pengganti nasi, mengolah ubi untuk menu keluarga, atau mengenal sagu sebagai pangan khas daerah tertentu bisa menjadi awal yang baik.



Tentu saja, perubahan kebiasaan makan tidak bisa menyelesaikan persoalan kerusakan lingkungan sendirian. Namun, mengenal dan menghargai pangan lokal dapat membantu kita lebih memahami pentingnya menjaga biodiversitas dan mendukung masyarakat yang merawat sumber pangan tersebut.

Pada akhirnya, keberagaman pangan adalah kekayaan yang patut kita jaga bersama. Indonesia punya banyak pilihan untuk mengenyangkan perut tanpa harus selalu bergantung pada beras dan gandum.

Jadi, bagaimana kalau mulai minggu ini kita mencoba satu menu berbahan umbi-umbian di rumah? Siapa tahu, dari sepiring singkong rebus atau ubi kukus bersama lauk favorit keluarga, kita bisa kembali mengenal kekayaan pangan Nusantara sekaligus belajar lebih peduli terhadap lingkungan.

Sebab, menjaga alam ternyata bukan hanya tentang apa yang kita lakukan di luar rumah, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai makanan yang hadir di meja makan setiap hari.

Tidak ada komentar

Hallo, mohon tidak komentar dengan link hidup ya 😉