Friday, December 6, 2019

Pengembangan Pengawasan Parsitipatif Melalui Sarana Kebudayaan






Assalamu'alaikum.
Alhamdulillah tidak terasa sebentar lagi menginjak usia canti (30) plus plus hehe. Bersyukur sekali saya panjatkan karena saya bisa lahir dan tumbuh di Indonesia yang sungguh kaya luar biasa. Keindahan pulau, beraneka ragam budaya , kuliner yang berlimpah dan masih banyak lagi.


Memang selama tinggal di Indonesia saya baru beberapa kali keluar kota dan pulau tapi dari sana lah saya yakin bahwa di pelosok daerah di Indonesia ada banyak keindahan dan budaya yang lebih indah lagi. 

Berbicara mengenai kebudayaan saya jadi ingin sharing sedikit dimana beberapa waktu lalu saya menghadiri acara Pengembangan Pengawasan Parsitipatif Melalui Kebudayaan bersama Bawaslu ( Badan Pengawasan Pemilu) di Sunlake Hotel.



Ada yang berbeda dari setiap event yang saya hadiri disini yaitu acara dimulai dengan Arak-arakan  ala Betawi Ketua Bawaslu dan juga Palang Pintu sebuah tradisi orang Betawi yang memiliki arti sebagai tradisi untuk membuka penghalang yang diwakili seseorang atau lebih agar dapat masuk ke suatu daerah. 

Tradisi Palang Pintu ini biasa dipakai pada acara perkawinan orang Betawi, mereka berbalas pantun. Dan disini lah unik serta seru mengenai tradisi ini. Melihat atraksi palang pintu kita semua yang hadir tertawa dan benar-benar menghibur.



Kebudayaan palang pintu tadi merupakan salah satu bentuk pengenalan atau salah satu sarana edukasi dari Bawaslu kepada masyarakat. Acara ini dihadiri oleh Ketua Bawaslu DKI Jakarta Bapak Muhammad Jufri, Pimpinan Bawaslu DKI Jakarta bapak Irwan Ramli, Kepala Sekretariat Bawaslu DKI Jakarta Bapak Masgur dan Ketua Bawaslu Administrasi Kepulauan Seribu beserta jajarannya.

Pengembangan Parsitipatif Melalui Sarana Kebudayaan dilakukan oleh Bawaslu KepĆ¹lauan Seribu dan Bawaslu kota lainnya. Hal ini juga dalam rangka mengevaluasi pemilu selama ini di Kepulauan Seribu yang diketahui sudah berjalan dengan baik , tidak ada pelanggaran. 

Yups saat Pemilu kemarin wilayah Kepulauan Seribu sudah berlangsung dengan baik berkat masyarakat yang ada di Pulau Seribu yang bersama-sama mengawasi pemilu yang ada .



Muhammad Jufri "Bawaslu Provinsi DKI Jakarta bersama Bawaslu kabupaten kota sekitar Jakarta memang ada Program yang dikembangkan bernama Pengembangan  Pengawasan Parsitipatif Melalui Sarana Kebudayaan, ada banyak yang bertanya lalu apa sih hubungannya dengan pengawasan pemilu apalagi pemilu sudah selesai?".

Jadi di Bawaslu sendiri sudah mengawasi pelaksanaan pemilu secara aman dan damai , apalagi di Kepulauan  seribu yang tercatat tidak ada pelanggaran dan masyarakat disini juga tercatat paling banyak yang ikut berpartisipasi nah ini membuktikan bahwa kesuksesan dan kelancaran pemilu. Hal ini juga menandakan tingkat kesadaran politik, pemilih juga tinggi.

Ketahuilah bahwa Bawaslu juga ada program untuk pemilu mendatang karena Bawaslu sudah menjadi lembaga bersifat tetap atau permanen 5 tahun. Nah tentu kegiatan edukasi masyarakat sejak dini harus dilakukan.

Pada tahun 2019 Bawaslu sudah melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi, ormas untuk memantau atau pengawasan. Tapi tak hanya itu saja , Bawaslu juga melakukan pendekatan lewat sarana budaya termasuk kebudayaan betawi agar masyarakat tersentuh dengan program-program pengawasan pemilu.

Bawaslu tidak sama dengan KPU, Tugas Bawaslu misalnya saja mendorong masyarakat agar bisa melaporkan jika ada terjadi pelanggaran di masyarakat, apakah dilakukan oleh partas politik atau caleg. Dan ini tidak mudah dilakukan karena untuk menjadi pelapor itu di masyarakat masih ada rasa takut.

Biasanya si pelapor akan menjadi saksi di pengadilan dan ini dia biasanya agak sungkan untuk melapor jika ada terjadi pelanggaran.

Bawaslu berharap bahwa masyarakat harus berani melapor jika ada pelanggaran yang terjadi dan kalau masyarakat tidak melaporkan cukup memberitahukan kepada bawaslu melalui Whats App, Telepon dan lainnya.

Yups tak bisa di pungkiri kalau melapor pelanggaran biasanya akan ada semacam intimidasi makanya agak segan juga ya.



Nah melalui Pengembangan  Pengawasan Parsitipatif Melalui Sarana Kebudayaan ini semoga masyarakat bisa paham dan lebih demokrasi.

Dengan lewat kebudayaan cara mengedukasi ini memang jadi lebih fun seperti kemarin ada kesenian Gambang Kromong dari Sanggar Naga Pamungkas Rorotan yang menghibur kita dengan humor namun diselipkan edukasi mengenai pemilu misalnya mengajak masyarakat no golput dan bagaimana cara memilih saat pemilu.



Sebagai masyarakat sipil, program pendekatan lewat kebudayaan memang lebih menyenangkan dibandingkan seminar edukasi berjam-jam yang bikin ngantuk. Dengan ini masyarakat lebih tersentuh juga kan.

Semoga saja edukasi ini makin meluas di kalangan masyarakat dan masyarakat bisa lebih berani jika ada pelanggaran pemilu misalnya money politic karena ini termasuk pelanggaran yang mencederai pemilu. 




No comments:

Post a Comment