Menerapkan Metode Mindful Parenting Kepada Anak

 

"Ma, kalau keluar nanti jangan lupa beli cokelat ya!"

"Ma, brownies kayanya enak nih"

"Ma, kalau aku sudah beresin kamar dan ruang tamu tapi beliin aku boba ya? "

Kalimat rayu dan keinginan Kezia anak bungsu saya kalau lagi ada maunya. Hmm, ada ga sih yang sama kaya Kezia sukanya makan makanan manis? mungkin tidak sedikit ya anak-anak atau dewasa suka sekali makanan manis apalagi makanan tersebut sedang naik daun. Kalau saya dan Shakila itu lebih suka makanan yang gurih atau asin gitu dibandingkan makanan manis tapi ya kadang sesekali makan atau minuman manis sih.


Memberikan makanan atau minuman manis yang sedang populer untuk Kezia sebenarnya tidak bisa dibilang sering juga sih, setidaknya paling maksimal 2 kali dalam sebulan beli itu, membelikannya pun sebagai reward atau bayaran Kezia entah itu sudah bantu semua pekerjaan rumah atau mendapatkan  nilai akademis yang memuaskan. Membatasi asupan gula teruatama dari makanan atau minuman manis ini memang sudah saya batasi banget karena saya tahu bahwa pemberian gula pada anak itu ada batasnya dan tidak baik jika berlebih.


Berbicara minuman manis kalian tahu ga sih kalau ternyata SKM itu bukan susu lho, karena tidak ada nutrisi di dalamnya dan hanya mengandung gula lebih banyak. SKM seringkali dianggap susu ini tak heran makanya masih banyak yang menjadikan SKM untuk dikonsumsi langsung layaknya susu. Nah jika dikonsumsi langsung dan secara terus menerus kepada anak maka akan terjadi yang namanya malnutrisi, ini semua saya dapatkan dari kegiatan webinar YAICI ( Yayasan Abhiprayab Insan Cendikia Indonesia) bersama Yayasan Karakter Eling beberapa hari yang lalu dengan tema Membangun Karakter Kesadaran Gizi Keluarga Melalui Mindful Parenting. 



Narasumber : 

  • Arif Hidayat SE,. MM, Ketua Harian YAICI
  • Melly Amaya Kiyong, Founder Komunitas Menata keluarga dan Pembina Yayasan Karakter eling Indonesia.
  • Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp. A (K), FAAP, Ketua Umum IDAI
  • Ibu Rahayu Saraswati, Ibu sekaligus Public Figure

Literasi gizi, pemahaman tentang literasi gizi masih sangat minim di Indonesia, masih banyak SKM atau Susu Kental Manis sebagai susu. Dari hasil penelitian masih cukup tinggi konsumsi masyarakat sebagai susu padahal bukan susu karena lebih banyak mengandung gula. Untuk SKM sendiri boleh dikonsumsi namun hanya sebagai campuran minuman saja bukan konsumsi harian layaknya sebagai susu. Jika dikonsumsi sebagai susu maka akan berdampak untuk kesehatan anak.
 

Untuk anak balita terutama jangan sampai mengkonsumsi kental manis tersebut, buat para orang tua juga harus tau tentang pentingnya tumbuh kembang 1000 HPK. Orang tua harus melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan si Kecil. Pada usis 2 tahun itu sel otak berkembang sangat pesat maka pada saat usia dari hamil hingga 2 tahun pentingnya pemberian nutrisi dan gizi seimbang untuk anak. Pemberian nutrisi pada usia 1000 HPK berpengaruh untuk dewasa nanti. 

Nutrisi untuk si kecil penting diberikan sejak didalam kandungan, lalu jika sudah lahir orang tua harus rutin melakukan pemeriksaan dengan buku panduan yang berwarna pink. Setiap bulannya harus rutin periksa mulai dari berat badan , Tinggi badan, pengukuran lingkar kepala juga penting dilakukan.  Saat kontrol rutin juga perlu ditanyakan kepada tenaga kesehatan mengenai diagnosis antropometri : 

Status Nutrisi :                                                                  
  • Gizi buruk                                                                           
  • Gizi kurang
  • Gizi baik ( normal)
  • Gizi lebih ( overweight) 
  • Obesitas 
Perawakan :
  • Sangat pendek
  • Pendek 
  • Normal
  • Tinggi

Jadi perlu diingat ya bun, setiap kontrol perlu ditanyakan kedua hal tersebut agar kita tahu perkembangan anak kita seperti apa. Mengenai asupan please stop sudah mengkonsumsi secara rutin kepada anak dan untuk asupan ntrisinya perhatikan juga nih apa yang mereka makan. Jika nutrisi dan gizi seimbang cukup diberikan insya Allah tumbuh kembang anak akan optimal. 


Lalu bagaimana sih kalau anak yang sudah kecanduan makanan manis atau makanan yang tidak sehat padahal tahu dampak negatifnya? nah maka perlu dilakukan dengan Mindful Parenting.



Mindful Parenting adalah pola asuh orang tua dengan kesadaran penuh setiap kali bertindak atau melakukan sesuatu, meskipun hal tersebut rutin dilakukan setiap harinya bersama anak.

 

Ilmu mindful parenting yang memiliki 5 dimensi : 

✅ Mendengarkan penuh perhatian

Jika kita mendengar penuh perhatian saat kita berkomunikasi dengan anak, dengarkan anak dengan penuh rasa empati. Tunjukkan perhatian, dan hadirkan diri kita didalamnya supaya kita dapat melihat mimiknya, mendengar intonasi suaranya dengan tujuan mengetahui apa yang terjadi dengan anak kita.

✅  Tidak menghakimi

Tidak menghakimi, moms tidak ada manusia yang sempurna, begitupun dengan putra putri kita yang sedang berproses menjadi manusia yang baik. Orangtua harus secara sadar melihat anak mereka sebagaimana adanya, hargai setiap usahanya dan berusaha tidak memberi label atas setiap perilakunya. Istilahnya jangan mudah menjudge anak dengan kata-kata yang menyakitkan dan sebagainya.

✅ Pengendalian emosi diri 

Kita sebagai orangtua sadar dan sabar ( mengelus dada ) bahwa menindak segala sesuatu yang terjadi pada anak tidak ada gunanya jika kita menyelesaikannya dengan emosi. Orangtua yang memahami dimensi ini tentu berkaitan dengan dimensi pertama dan kedua.Mereka akan dapat membuat pilihan-pilihan secara sadar tentang bagaimana merespons dengan baik. Jika kita mampu mendengar dan tidak menghakimi kita bisa mengendalikan emosi.

✅ Adil dan bijaksana 

Adil dan bijaksana disini adalah berikan apa yang dibutuhkan bukan apa yang diingkan. nah apa yang dibutuhkan anak itu apa. Mengasuh berkesadaran memerlukan pengendalian diri dalam merespon sikap anak, tidak menunjukkan sikap negatif dan berlebihan dalam merespon seperti marah, mengomel terlebih perilaku kasar terhadap anak. Orangtua dalam dimensi ini diajak untuk memberikan apa yang anak butuhkan bukan yang mereka inginkan secara adil dan bijaksana

✅ Welas asih 

Tidak ada orang tua yang tidak mencintai anak atau tidak menyeyangi anak , kadang orang tua takut si anak nangis, nah kalau balik lagi perlu diketahui bahwa anak itu paling mudah dipengaruhi. orangtua mengajarkan anak untuk berkasih sayang. Memenuhi kebutuhan anak dan memberikan kenyamanan bagi anak ketika mengalami kesulitan. Mengembangkan konsep kasih sayang dalam keluarga, akan melahirkan anak-anak yang peduli kepada sesama dan peduli semuanya.


Jujur saja saya masih dalam tahap pembelajaran menerapkan Mindful Parenting dan mungkin bisa dianggap agak lambat ya, namun daripada tidak ya kan? hehe. Lalu dalam mengatasi anak yang sudah terbiasa mengkonsumsi makanan manis atau jajan yang manis untuk mengalihkan keinginannya saya akan cari ide kegiatan apa yang menyenangkan dan tentunya bermanfaat untuk Kezia juga. Salah satu kegiatan yang bisa dibilang cukup sering yaitu memasak. 



Saat ini Alhamdulillah Shakila dan Kezia sudah bisa memasak makanan yang simple dan sering berkreasi sendiri. Sushi dan kimbab menjadi dua menu favorit Shakila dan Kezia belakangan ini. Kalau beli harganya lumayan banget yes makanya beberapa kali lebih baik bikin sendiri di rumah. Untuk isiannya juga gak perlu yang macam-macam sih paling wortel, telur, buncis, daun bawang, teri medan dan kadang potongan ayam suir juga anak-anak sudah lahap banget makannya. 


Membuat sushi dan kimbab menjadi hal yang menyenangkan bagi kami karena kita bisa sambil ngobrol satu sama lain dan dengan buat makanan sendiri terutama anak-anak juga mereka lebih menghargai makanan yang mereka buat.


Sebagai orang tua juga saya cukup senang mereka suka makanan tersebut karena bisa dibilang lebih sehat ya daripada jajan-jajan yang manis yang tentunya tidak begitu baik untuk kesehatan mereka. Untuk jajan sih memang dibolehkan oleh saya jika anak-anak kondisinya sehat, tidak batuk juga. Biasanya kalau untuk jajan yang manis juga dibatasi karena tidak baik untuk mereka juga dan memberi pemahaman juga kalau #KentalManisJanganDiseduh dan diminum selayaknya susu.


Pengertian mengenai hal apa yang boleh dimakan, apa yang harus dibatasi untuk anak-anak ini saya dalam tahap belajar. Iya belajar menerapkan Mindful Parenting ini, semoga ya bun kita semua bisa menjadi orang tuua yang sukses dan menyenagkan dimata anak-anak kita, tanpa mudah menghakimi mereka. 


11 komentar

  1. Pengendalian emosi ini yang ortu harus banyak belajar. Karena bagaimanapun, emosi yang tidak terkendali dapat mempengaruhi pola pikir anak dan perasaannya dalam menghadapi dunia. Terutama berperan dalam munculnya innerchild dalam diri anak.

    BalasHapus
  2. Aku mencoba terus sih menerapkan ini, walau kadang2 ya bisa missed juga. Setidaknya kalo udah tau rulesnya kita gampang kembali ke jalur kalo melakukan kesalahan ya mbak

    BalasHapus
  3. perlu ada literasi seperti ini untuk menegaskan kembali bahwa kental manis bukan pengganti susu dan jangan dikonsumsi seperti susu karena punya kandungan yang tak sama bahkan cenderung berbahaya

    BalasHapus
  4. Saya juga masih terus belajar menerapkan Mindful Parenting. Inginnya bisa jadi orang tua yang menyenangkan bagi anak-anak.

    BalasHapus
  5. Saya masih belum paham mindful parenting itu seperti apa ya sebenarnya. Menarik utk diketahui oleh orangtua ya.

    BalasHapus
  6. Shakila dan Kezia luar biasaaaaa
    Bersyukur banget ya Mom, punya buah hati yg shalihaat
    mau juga ahh terapkan mindful parenting

    BalasHapus
  7. Menerapkan mindful parenting ada tantangan sendiri ya, Mbak. Apalagi kalau anaknya masih usia balita.

    BalasHapus
  8. Baik sekali menerapkan mindful dalam segala hal, apalagi mindful parenting yaa..
    Soalnya zaman sekarang, tuntutan waktu dan pekerjaan seringkali membuat kita menjadi orangtua yang serba cepat dan buru-buru, meski hanya mendengarkan anak berbicara.

    BalasHapus
  9. Shakila Kezia mau donk dibikinin sushi jugaaa :D
    Intinya mindfull parenting ini adalah mau mendengarkan anak dan bener2 memberikan perhatian penuh ya mbak.
    Kadang walau di rumah soalnya juga kualitas berama anak kurang bagus.
    Wah kudu mulai ikut praktikin mindfull parenting ini deh TFS

    BalasHapus
  10. MasyaAllah makasih Kak sudah memberikan wawasan nih buat saya, karena masih belajar banget untuk jadi orang tua yang baik..

    BalasHapus
  11. Iya masih banyak yang salah kaprah bahwa kental manis itu susu, semoga setiap keluarga di Indonesia makin paham dengan hal-hal yang terkait parenting ini

    BalasHapus

Hallo, mohon tidak komentar dengan link hidup ya 😉